Politik

Pengamat: Upaya Rekonsiliasi Habib Rizieq Lebih Tepat Disebut Kompromi Politik | Tribun

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

Tribun.website, JAKARTA – Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, wacana rekonsiliasi kembali mengemuka mengiringi kepulangan Habib Rizieq Shihab ke tanah air.

Karyono pun sepakat dengan wacana tersebut. Menurutnya, rekonsiliasi nasional merupakan kebutuhan bangsa agar tidak terjebak ke dalam kubangan konflik yang berkepanjangan. 

Baca juga: Sekjen Gerindra Ahmad Muzani : Ahlan Wa Sahlan Ya Habib Rizieq Shihab

Tetapi, yang terjadi, wacana rekonsiliasi mengalami bias makna dan salah kaprah. 

“Rekonsiliasi itu harus memiliki urgensi, tujuan dan kerangka atau konsep rekonsiliasi,” kata Karyono kepada Tribunnews, Rabu (11/11/2020).

Lebih lanjut, kata Karyono, dari aspek urgensi, rekonsiliasi memang diperlukan, mengingat sepanjang perjalanan bangsa ini masih terbebani konflik masa lalu.

Baca juga: Henry Yosodiningrat: Tak Ada Alasan Polisi Tidak Menindaklanjuti Laporan Saya Terhadap Rizieq Shihab

Namun demikian tidak mudah untuk mewujudkan rekonsiliasi. 

Pasalnya, rekonsiliasi memerlukan komitmen kuat untuk menghapus dendam demi mengakhiri konflik. 

“Masalahnya, konflik masa lalu justru dikelola untuk tujuan tertentu yang malah memperpanjang dan memeruncing konflik. Konflik lama justru kerap direproduksi, diduplikasi dan dimodifikasi untuk tujuan tertentu,” ucap Karyono.

Ujungnya, lanjut Kartono, yang terjadi bukan rekonsiliasi nasional yang bertujuan untuk mengakhiri konflik, tapi yang terjadi adalah kompromi politik sebatas kepentingan elit. 



Sumber Berita

admin
the authoradmin

Tinggalkan Balasan