Wabah Corona Kalsel, Bisnis Perhotelan di Banjarmasin dan Banjarbaru Sepi | Tribun

oleh -2 views
Wabah Corona Kalsel, Bisnis Perhotelan di Banjarmasin dan Banjarbaru Sepi

Editor: Edi Nugroho

TRIBUNKALTENG.COM, BANJARMASIN-Bisnis jasa perhotelan di Kalsel masih belum menggembirakan. Pandemi corona yang belum berakhir membuat hunian kamar masih rendah.

Nurul Fahmi SM, Sekum PHRI Kalsel, mengatakan, mulai awal tahun tetap tidak terlalu naik hunian kamar, rata-rata tingkat hunian 45-55 persen.

“Tamu masih sepi, karna beberapa faktor yaitu ekonomi tidak ada kenaikan, isu covid jenis baru B117 membuat tamu takut melakukan perjalan ke daerah zona merah yaitu Banjarmasin dan Banjarbaru,” jelasnya.

Jadi tamu-tamu masih menunggu vaksinisai beres. Selain itu masih diperpanjang PPKM oleh pemko dan pemkab sehingga membatasi masyarakat.

Baca juga: Pantau Jelang Pelaksanaan Tes CPNS dan P3K, Anggota DPRD Kalsel Ini Titip Guru Agama

” Juga belum turunnya anggaran pemerintah untuk menggelar kegiatan di hotel macam bimtek dan lain-lain sehingga hotel yang mempunyai ruang meeting menjadi sepi acara,” jelas Fahmi.

Lanjut Fahmi, harapan BPD PHRI kepada pemerintah daerah adalah segera laksanakan vaksinasi terutama bagi karyawan-karyawan hotel dan restoran sehingga tamu-tamu yang menginap maupun mengadakan acara tidak khawatir.

“Ada sekitar 3.600 karyawan se-Kalsel yang siap divaksin, data sudah kami kirim ke Dinkes provinsi dan kota Banjarmasin,” beber Fahmi.

Sambungnya, pendapatan pajak dari hotel dan restoran terutama di Banjarmasin dan Banjarbaru itu mendominasi PAD, jadi hendaklah pemerintah daerah memperhatikan kelangsungan usahanya.

“Jangan hotel dan resto menjadi sasaran PPKM yang ketat, padahal hotel dan resto PHRI punya sertifikat CHSE yang selalu melaksanakan Prokes ketat kepada tamu-tamunya,” ungkap Fahmi.

Jika bisnis hotel untuk tongkat huniannya terus menerus di bawah 50 persn maka hotel-hotel di Kalsel akan tutup, sebab tidak bisa meng-cover biaya operasional.

“Pendapatan berkurang, dan jika banyak hotel dan resto tutup tentunya punya efek pada pajak daerah dan supplier makanan serta lainnya, belum lagi imbasnya sangat besar terhadap tenaga kerja atau karyawan karena akan banyak di-PHK,” pungkasnya.
(Tribunkalteng.com/salmah saurin)





Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *